c

Kamis, 27 April 2017

Pedagang Mulai Tolak Orderan Karangan Bunga Untuk Dikirim Ke Ahok Di Balaikota, Ini Lantarannya

TOP News - Pedagang karangan bunga papan di Pasar Rawa Belong mulai tolak orderan
untuk Ahok.

Penyebabnya stok sterofoam dan bambu sudah mulai habis.

Pemilik Alfinza Florist, Yuliana (42), mengaku hanya menerima order 4 bunga papan.


"Sisanya yang minta dikirim untuk hari ini juga saya tolak. Ada sekitar 4 pesanan yang saya tolak," kata Yuliana ketika ditemui Wartakotalive.com di tokonya, Kamis (27/4/2017) siang.

Yuliana mengatakan, stok sterofoam di tokonya sudab menipis. Belum lagi pekerjanya mulai kelelahan menangani order yang mendadak itu.

"Saya tak siap dengan orderan untuk Ahok ini. Makanya kita sedang tak banyak stok sterofoam dan kayu," ucap Yuliana.

Apalagi besok sudah masuk akhir pekan dimana orderan untuk pernikahan sudah menanti.

"Kalau dipaksakan diladeni yang pesanan untuk Ahok, yah bisa kehabisan stok untuk karangan bunga pesanan wedding," kata Yuliana.

Pantauan Wartakotalive.com, di lantai 2 Blok A Pasar Bunga Rawabelong tampak sibuk.

Jejeran papan sedang disusun menjadi karangan bunga yang indah. Sebagian besar pekerja sedang mengerjakan orderan karangan bunga untuk Ahok.

Selain Yuliana, Dedi (30), pemilik toko lainnya, sedang kesal di mejanya, siang tadi.

"Stok kayu dan papan saya habis. Baru datang besok lagi.Padahal hari ini ada 15 orderan untuk Ahok," kata Dedi sambil menyesal.

Dia mengaku tak menyangka kekalahan Ahok bakal mendatangkan rejeki untuk pedagang bunga.

"Kalau tahu begini mah saya setok papan sama sterofoam yang banyak," ujar Dedi yang mengeruk keuntungan mencapai Rp 50 juta selama 3 hari ini dari bunga papan untuk Ahok.

Sumber : tribunnews.com

Selasa, 25 April 2017

“Kalah, Nama Ahok justru Mendunia… The Australian: “Ahok Gubernur Terbaik yang pernah Memimpin Jakarta”



TOP News - Ajang Pilkada DKI Jakarta ternyata tidak hanya menjadi sorotan media dalam negeri saja namun juga di seluruh dunia. Bahkan beberapa media asing sudah memberitakan soal kehebohan Pilkada DKI Jakarta antara Ahok-Djarot melawan Anies-Sandi. 
Hasil quick count telah menyatakan bahwa Anies-Sandi telah resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur baru untuk Ibu Kota DKI Jakarta.
 
Ahok Gubernur Terbaik Jakarta 
Walau memang Anies-Sandi memenangkan ajang Pilkada ini lewat hasil quick count dengan perolehan suara di atas 50 persen, namun nama Ahok malah mendunia.
 
Salah satunya yaitu media asing dari Australia yang bernama The Australian menyatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disebut sebagai Ahok adalah "Gubernur Terbaik" yang pernah memimpin Ibu Kota DKI Jakarta.
 
Padahal, seperti yang diketahui bahwa Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta hanya sekitar dua setengah tahun saja.
 
Ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta setelah Joko Widodo yang kala itu ikut ajang Pilpres memenangkan pertempuran dan berhasil menjadi seorang Presiden Indonesia.

"Gubernur Ahok secara luas diakui sebagai gubernur paling efektif menangani 'kota kacau' dengan penduduk lebih dari 10 juta dalam beberapa dekade terakhir," kutip ItuSalah.com dari laman The Australian.

Ahok Gagal Melanjutkan Pemerintahan

Namun, The Australian melanjutkan, kehebatan seorang Ahok tak bisa dilanjutkan kembali karena munculnya ragam kampanye yang sangat berpengaruh pada keputusan pemilih terutama dilakukan oleh oknum-oknum ormas agama serta pemegang kekuasaan politik di Indonesia yang diduga memiliki niat untuk melakukan penggeseran sekutu utama yaitu Presiden Jokowi di jelang Pilpres 2019 mendatang.

Masih menurut The Australian, para pemimpin di oposisi sedang mencari celah dari baju besi yang dikenakan oleh lawan mereka. Hal itu bisa didapatkan lewat ucapan Ahok yang mempertanyakan soal penafsiran atas sebuah ayat Alquran sehingga diperalat dan dimanfaatkan untuk umat agama tidak memilih pemimpin yang tidak seagama.

Mirip Donald Trump

Hal ini dihubungkan dengan yang terjadi di Pilpres Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump yang menggunakan cara lama untuk bisa merasuki pikiran warga AS yang ternyata masih konservatif.

Hadirnya Anies-Sandi di dalam tubuh pemerintahan DKI Jakarta telah dianggap banyak orang untuk bisa memuluskan kepentingan politik lainnya. Salah satu diantaranya yaitu mengenai pengusungan Prabowo Subianto di ajang Pilpres 2019 mendatang.

"Gubernur Ahok secara luas diakui sebagai gubernur paling efektif menangani 'kota kacau' dengan penduduk lebih dari 10 juta dalam beberapa dekade terakhir," kutip ItuSalah.com dari laman The Australian.

Ahok Gagal Melanjutkan Pemerintahan

Namun, The Australian melanjutkan, kehebatan seorang Ahok tak bisa dilanjutkan kembali karena munculnya ragam kampanye yang sangat berpengaruh pada keputusan pemilih terutama dilakukan oleh oknum-oknum ormas agama serta pemegang kekuasaan politik di Indonesia yang diduga memiliki niat untuk melakukan penggeseran sekutu utama yaitu Presiden Jokowi di jelang Pilpres 2019 mendatang.

Masih menurut The Australian, para pemimpin di oposisi sedang mencari celah dari baju besi yang dikenakan oleh lawan mereka. Hal itu bisa didapatkan lewat ucapan Ahok yang mempertanyakan soal penafsiran atas sebuah ayat Alquran sehingga diperalat dan dimanfaatkan untuk umat agama tidak memilih pemimpin yang tidak seagama.

Mirip Donald Trump

Hal ini dihubungkan dengan yang terjadi di Pilpres Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump yang menggunakan cara lama untuk bisa merasuki pikiran warga AS yang ternyata masih konservatif.

Hadirnya Anies-Sandi di dalam tubuh pemerintahan DKI Jakarta telah dianggap banyak orang untuk bisa memuluskan kepentingan politik lainnya. Salah satu diantaranya yaitu mengenai pengusungan Prabowo Subianto di ajang Pilpres 2019 mendatang.(merdeka.com via itusalah.com)