Sponsor

Sunday, August 28, 2016

Datang Ke Pos Pemenangan ... Ruhut Sitompul : Saya Tidak Takut Kena Sanksi Apapun Dari Demokrat .. Karena Menurut Pribadi Saya Yang Saya Jalani Itu Benar ...


TOP News - Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul datang ke Poske Tim Pemenangan kandidat Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), padahal dia baru saja dicopot dari jabatan sebagai koordinator juru bicara Partai Demokrat.

Ruhut mengaku tak takut kena sanksi pencopotan dari partainya gara-gara mendukung Ahok.

"Ah kalau gue (saya), hidup mengalir. Tapi ingat, aku berlian, dimanapun aku tetap berlian," kata Ruhut sambil terkekeh-kekeh di Posko pemenangan Ahok, Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat,Kamis (25/8/2016) malam.

Ruhut tak perduli jika ada sanksi lagi yang diterimanya akibat sikap pribadinya itu.

Dinonaktifkan Ruhut dari jabatan koordinator juru bicara disebut Sekjen Partai Demokrat bukan karena mendukung Ahok, namun petinggi PD lain menyebut karena sikap Ruhut.

"Apapun (konsekuensinya), saya (dukung) Ahok. Enggak usah khawatir lah," ujar Ruhut.

Ruhut mengaku tak meminta izin partai untuk pergi ke Rumah Lembang ini.

Dia menyatakan diundang pihak Tim Pemenangan Ahok dan merasa harus memenuhi undangan itu.

Lagi pula kata dia, Partai Demokrat belum punya keputusan apa-apa.

Ketua Umum Partai Demokrat SBY bahkan juga dinyatakan bersikap baik terhadap Ahok.

"Kalau Pak SBY baik sama Ahok. Aku lapor ke Pak SBY, "Pak, Saya selalu bersama Ahok.'
(SBY menjawab) 'Oh iya bagus. Tapi kamu juga buka komunikasi dengan calon lain. 'Ya calin lain enggak ada. Masak diundang aku enggak datang?"kata ruhut.

Dia berujar, yang diyakinnya menang di kontestasi politik biasanya bakal benar-benar menang, meski kadang keyakinannya berbeda dengan Partai Demokrat.

Dia menyontohkan saat dia mendukung Jokowi menjadi presiden, ternyata jokowi benar-benar menang Pilpres 2014.

Namun sikapnya untuk mendukung Ahok adalah sikap pribadi, bukan sikap partai.

"Ini hak demokrasi orang kan,pribadi," kata Ruhut.

Ruhut sendiri mengaku belum mengetahui Partai Demokrat bakal mendukung siapa Pilgub DKI 2017.

SBY sudah ditanyainya soal hal ini, dan SBY hanya menyuruh Ruhut untuk bersabar.

Soal sikap Partai Demokrat di Jakarta yang bergabung dengan koalisi kekeluargaan, itu bukanlah sikap final.

"Walaupun Nachrowi Ramli (Ketua Demokrat Jakarta) kita belum tahu kan, koalisi kekeluargaan. Tetapi saya rasa bicara koalisi itu harus di pusat. Karena merujuk pada Undang-undang Partai Politik, izin partai itu kepada DPP,"kata Ruhut sendiri .



Sumber : Detik.com

Tuesday, August 23, 2016

SEJARAH SINGKAT MARGA-MARGA KARO



Dalam masyarakat  Karo terdapat 5 (lima) kelompok besar Marga (merga- bhs Karo) yaitu marga : Karo Karo, Sembiring, Ginting, Perangin Angin dan Tarigan yang setiap kelompoknya mempunyai beberapa cabang atau sub-marga yaitu sebagai berikut :

I. KARO KARO

1. SEKALI, marga dan penghuni pertama Taneh Karo serta pendiri kampung Siberaya, Lau Gendek, dan Taneh Jawa.
2. KEMIT, saudara Karokaro Ujung.
3. SAMURA
4. SITEPU,
Marga Sitepu menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian pindah ke si Ogungogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
5. SINULINGGA
Marga Sinulingga berasal dari marga Lingga di Lingga Raja Suak Pegagan tanah Pakpak, di sana mereka telah menemui marga Munthe Pakpak. Sebagian dari marga Lingga telah berpindah ke tanah Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga dan menyandang marga Sinulingga. Marga ini juga terdapat di Gayo yang disebut dengan Linge.
6. SINURAYA
Marga Sinuraya berasal dari marga Angkat di Suak Keppas tanah Pakpak dan bersaudara dengan Sinuhaji keduanya lahir kembar. Marga ini mendirikan kampung Bunuraya dan Singgamanik. Sinuraya Bunuraya sebagian pindah ke Mulawari dan Sigenderang, sedang Sinuraya Singgamanik sebagian pindah ke Kandibata dan Jeraya.
7. SINUHAJI
Marga Sinuhaji, bersaudara dengan marga Sinuraya
8. SINUKABAN
Marga Sinukaban, mendiami kampung Kaban di Tanah Karo.
9. SURBAKTI
Marga Surbakti, membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi marga Torong. Ada yang meyakini leluhur marga ini awalnya adalah marga Gajah di tanah Pakpak dan hal itulah yang melatarbelakangi keturunannya yang pindah ke tanah Karo mendirikan kampung bernama Gajah.
10. KACARIBU
Marga Kacaribu pecahan dari marga Sinulingga. Marga ini mendirikan kampung Kacaribu.
11. BARUS
Marga Barus, menurut cerita berasal dari Barus (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Simbelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) yang berarti si telinga lebar. Ia pergi mengungsi dari Barus akibat diusir oleh warga sekampungnya karena kawin sumbang (incest). Sebelum sampai ke tanah Karo, ia sempat singgah dan menetap di Kuta Usang dan dijadikan anak angkat oleh Manik Siketang. Dari sana ia lalu meneruskan perjalanan ke tanah Karo, daerah yang pertama ia masuki adalah Aji Nembah, salah seorang keturunannya diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.
12. KABAN
Marga Kaban, pecahan dari marga Sinulingga. Mereka mendiami Bintang Meriah dan Pernantin.
13. SINUBULAN.
14. UJUNG
Marga Ujung dari marga Ujung di Suak Keppas tanah Pakpak,oleh Darwan-Darwin Prinst marga ini dianggap bersaudara dengan Karokaro Kemit, mereka mendirikan kampung Mulawari.
15. PURBA
Marga Purba dari marga Purba Pakpak di Kerajaan Purba yang berpusat di Pamatang Purba, Simalungun. Marga ini mendirikan Kabanjahe, Berastagi, Kandibata, Bandar Purba, Pancur Batu, dan Lau Cih. Marga ini membagi diri menjadi Purba Rumah Kaban Jahe dan Rumah Berastagi.
16. KETAREN
Marga Ketaren, dahulu merga Karo-Karo Purba memakai marga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu Rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai marga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M. Purba, dahulu yang memakai marga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
17. MANIK
MaRGA Manik, di Buluh Duri (Karo Baluren) berasal dari Manik Siketang di Suak Pegagan tanah Pakpak.
18. GURUSINGA.
19. TORONG
Marga Torong, pecahan marga Surbakti.
20. PAROKA
Marga Paroka, keturunan dari Kerajaan Sriwijaya.
21. BUKIT

II. SEMBIRING

GOLONGAN SIMANTANGKEN BIANG/ SINGOMBAK :
Golongan Simantangken Biang atau Singombak (yang mengharamkan makan daging anjing) yang berasal dari Hindu Tamil adalah kelompok marga Sembiring yang menghanyutkan abu-abu jenasah keluarganya yang telah meninggal dunia dalam perahu kecil melalui Lau Biang (Sungai Wampu). Adapun kelompok merga Sembiring Singombak tersebut adalah sebagai berikut:
1. MILALA
Marga Milala, berasal dari pegunungan Malayalam di India, mereka masuk ke tanah Karo melalui pantai timur dekat Teluk Haru. Di tanah Karo penyebarannya dimulai dari Beras Tepu. Nenek moyang mereka bernama Pagit pindah ke Sari Nembah. Merka umumnya tinggal di kampung-kampung Sari Nembah, Raja Berneh, Kidupen, Munte, Naman, dan lain-lain. Pecahan dari marga ini adalah Sembiring Pande Bayang.
2. TEKANG
Marga Tekang, berasal dari pegunungan Teykaman di India marga ini bersaudara dengan Sembiring Milala. Di Buah Raya, Sembiring Tekang ini juga menyebut dirinya Sembiring Milala. Kedekatan kedua merga ini juga terlihat dari nama Rurun anak-anak mereka. Rurun untuk merga Milala adalah Jemput (laki-laki di Sari Nembah) / Sukat (laki-laki di Beras Tepu) dan Tekang (wanita). Sementara Rurun Sembiring Tekang adalah Jambe (laki-laki) dan Gadong (perempuan). Kuta pantekennya adalah Kaban, merga ini tidak boleh kawin-mengawin dengan merga Sinulingga, dengan alasan ada perjanjian, karena anak merga Tekang diangkat anak oleh merga Sinulingga.
3. PELAWI
Marga Pelawi, berasal dari kerajaan Pallawa di India. Pusat kekuasaan merga Pelawi di wilayah Karo dahulu di Bekancan. Di Bekancan terdapat seorang Raja, yaitu Sierkilep Ngalehi, menurut cerita, daerahnya sampai ke tepi laut di Berandan, seperti Titi Pelawi dan Lau Pelawi. Di masa penjajahan Belanda daerah Bekancan ini masuk wilayah Pengulu Bale Nambiki. Kampung-kampung merga Sembiring Pelawi adalah Ajijahe, Kandibata, Perbesi, Perbaji, Bekancan, dan lain-lain.
4. DEPARI
Marga Depari, saudara dari Pelawi. Menurut cerita menyebar dari Seberaya, Perbesi sampai ke Bekancan (Langkat). Mereka ini masuk ke dalam Sembiring Singombak, di tanah Karo nama kecil (Gelar Rurun) anak laki-laki disebut Kancan, yang perempuan disebut Tajak. Sembiring Depari kemudian pecah menjadi Sembiring Busuk. Sembiring Busuk ini terjadi baru tiga generasi yang lalu. Sembiring Busuk terdapat di Lau Perimbon dan Bekancan.
5. BUSUK
Marga Busuk, saudara dari Pelawi, Bunuh Aji, dan Depari.
6. BUNUH AJI
Marga Bunuh Aji, saudara dari Pelawi, Depari, dan Busuk. Marga ini
terdapat di Kuta Tengah dan Beganding.
7. MUHAM
Marga Muham, marga ini juga berasal dari India, dalam banyak praktek kehidupan sehari-hari merga ini sembuyak dengan Sembiring Brahmana, Guru Kinayan, Colia, dan Pandia. Mereka inilah yang disebut Sembiring Lima Bersaudara dan itulah asal kata nama kampung Limang. Menurut ahli sejarah Karo. Pogo Muham, nama Muham ini lahir, ketika diadakan Pekewaluh di Seberaya karena perahunya selalu berdempet (Muham).
8. PANDEBAYANG
Marga Pandebayang, pecahan dari Sembiring Milala.
9. BRAHMANA
Marga Brahmana, menurut cerita lisan Karo, nenek moyang merga Berahmana ini adalah seorang keturunan India yang bernama Megit dan pertama kali tinggal di Talun Kaban. Anak-anak dari Megit adalah, Mecu Brahmana yang keturunannya menyebar ke Bulan Julu, Namo Cekala, dan Kaban Jahe. Mbulan Brahmana menjadi cikal bakal kesain Rumah Mbulan Tandok Kabanjahe yang keturunannya kemudian pindah ke Guru Kinayan dan keturunannya menjadi Sembiring Guru Kinayan. Di desa Guru Kinayan ini merga Brahmana memperoleh banyak sekali keturunan. Dari Guru Kinayan, sebagian keturunananya kemudian pindah ke Perbesi dan dari Perbesi kemudian pindah ke Limang.
10. PANDIA
Marga Pandia, berasal dari kerajaan Pandia di India dan bersaudara dengan Sembiring Berahmana, Muham, Colia dan Guru Kinayan. Dewasa ini mereka umumnya tinggal di Payung.
11. COLIA
Marga Colia, keturunan Raja Chola saat melakukan penaklukan ke Sriwijaya, Panai, dan Nagur. Marga ini mendirikan kampung Kubu Colia. Kalau di Simalungun dikenal dengan Damanik Sola.
12. GURUKINAYAN
Marga GuruKinayan, saudara dari Colia dan Pandia. Marga ini terbentuk di Guru Kinayan, yakni ketika salah seorang keturunan dari Mbulan Berahmana menemukan pokok bambo bertulis (Buloh Kanayan Ersurat). Daun bambu itu bertuliskan aksara Karo yang berisi obat-obatan. Di kampung itu menurut cerita dia mengajar ilmu silat (Mayan) dan dari situlah asal kata Guru Kinayan (Guru Ermayan). Keturunannya kemudian menjadi Sembiring GuruKinayan.
13. SINUKAPUR
MARGA Sinukapur, berasal dari keturunan marga Kapoor dari bangsa Tamil. Marga ini tinggal di Pertumbuken, Sidikalang, dan Sarintonu.
14. KELING
Marga Keling, menurut cerita lisan Karo mengatakan, bahwa Sembiring Keling telah menipu Raja Aceh dengan mempersembahkan seekor Gajah Putih. Untuk itu Sembiring Keling telah mencat seekor kerbau dengan tepung beras. Akan tetapi naas, hujan turun dan lunturlah tepung beras itu, karenanya terpaksalah Sembiring Keling bersembunyi dan melarikan diri. Sembiring Keling sekarang ada di Raja Berneh dan Juhar.
GOLONGAN SI MAN BIANG :
Golongan Si Man Biang (yang menghalalkan makan daging anjing), menurut Pustaka Kembaren, asal-usul merga ini terdiri dari Kuala Ayer Batu, kemudian pindah ke Pagaruyung terus ke Bangko di Jambi dan selanjutnya ke Kutungkuhen di Alas. Nenek moyang mereka bernama Kenca Tampe Kuala, berangkat bersama rakyatnya menaiki perahu dengan membawa pisau kerajaan bernama Pisau Bala Bari. Keturunannya kemudian mendirikan kampung Silalahi, Paropo, Tumba dan Martogan. Dari sana kemudian menyebar ke Liang Melas, seperti Kuta Mbelin, Sampe Raya, Pola Tebu, Ujong Deleng, Negerijahe, Gunong Meriah, Longlong, Tanjong Merahe, Rih Tengah dan lain-lain. Merga ini juga tersebar luas di Kab. Langkat seperti Lau Damak, Batu Erjong-Jong, Sapo Padang, Sijagat, dll.
15. SINULAKI
Marga Sinulaki, marga ini berasal dari Silalahi. Marga ini di Toba masuk ke dalam kelompok marga Si Pitu Turpuk yang meliputi Loho Raja (Sihaloho), Tungkir Raja (Situngkir), Batu Raja (Pintu Batu), Sondi Raja (Ruma Sondi), Debang Raja (Sidebang), Bariba Raja (Sinabariba), dan Butar Raja (Sinabutar).
16. SINUPAYUNG
Marga Sinupayung, marga ini juga ada di Simalungun yang dikenal dengan Sipayung dan di Alas jadi Sepayung. Di tanah Karo, mereka mendiami Juma Raja dan Negeri.
17. KELOKO
Marga Keloko, marga ini di Pakpak disebut Kaloko, di Toba disebut Sihaloho dan di Simalungun Haloho. Di tanah Karo marga ini tinggal di Rumah Tualang, sebuah desa yang sudah ditinggalkan antar Pola Tebu dengan Sampe Raya. Merga ini sekarang terbanyak tinggal di Pergendangen, beberapa keluarga di Buah Raya dan Limang.
18. KEMBAREN
Marga Kembaren sama dengan marga Keloko yang bersaudara dengan Sinulaki dan Sinupayung.
19. MAHA
Marga Maha berasal dari marga Maha di Tanah Pakpak yang bersaudara dengan marga Sambo dan Pardosi.

III. GINTING

Di Suak Kelasen, Tanah Pakpak, terdapat sejumlah marga seperti Kesogihen atau Hasugian, Berasa, dan Bako. Ketiga marga ini kemudian berpindah ke Samosir, lalu menjalin persaudaraan dengan marga Simarmata, terus ke Sitinjo dan kemudian ke Guru Benua, di sana kelima marga ini melahirkan marga Suka, Jadibata, Guru Patih, Bukit, dan Ajar Tambun, di kemudian hari kelompok marga ini dikenal dengan Siwah Sada Ginting. Berikut nama-nama mereka:
1. SUKA
2. SUGIHEN
Marga Sugihen, keturunan marga Kesogihen atau Hasugian di Suak Kelasen tanah Pakpak dan di Alas juga disebut Sugihen.
3. JANDIBATA
4. GARAMATA, keturunan marga Simarmata dari Toba.
5. GURU PATIH
6. BUKIT
7. BERAS
Marga Beras, keturunan marga Berasa dari tanah Pakpak.
8. AJAR TAMBUN
9. BABO
Marga Babo, keturunan marga Bako dari tanah Pakpak
Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, Kecamatan Munte.
10. PASE
Marga Pase, berasal dari Kerajaan Samudera Pasai. Sedang menurut cerita lisan Karo, Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Konon anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh.
11. MANIK
Marga Manik, berasal dari marga Manihuruk di Tongging keturunan dari Nai Ambaton. Dari Tongging mereka menyebar ke Aji Nembah, ke Munthe, dan Kuta Bangun.
12. MUNTHE
Marga Munthe, berasal dari marga Tamba keturunan Nai Ambaton di Toba. Sedang menurut cerita lisan Karo, marga ini berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Neumann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.
13. TAMPUNE
Marga Tampune, pecahan marga Munthe di Kuala.
14. JAWAK
Marga Jawak, berasal dari marga Saragih Sidajawak di Simalungun, saudara mereka di Toba adalah marga Sijabat. Marga ini hanya sedikit saja di tanah Karo.
15. SERAGIH
Marga Seragih, keturunan dari seorang penjual kuda bermarga Saragih dari Simalungun. Marga ini ditemukan di sekitar Namo Pecawir, Perteguhen, Juma Raja, Surbakti, dan Lingga Julu.
16. TUMANGGER
Marga Tumangger, berasal dari marga Tumangger atau Tumanggor dari Suak Kelasen tanah Pakpak. Di tanah Pakpak, marga ini bersaudara dengan marga Maharaja, Tinambunan, Pinayungan, Turuten, dan Anak Ampun yang disebut dengan Si Enem koden.
17. CAPAH
Marga Capah, berasal dari marga Capah di Suak Keppas tanah Pakpak. Di tanah Pakpak, marga ini bersaudara dengan marga Ujung, Angkat, Kudadiri, Bintang, Sinamo, dan Gajah Manik yang merupakan keturunan dari Raja Pako di Naga Jambe raja Sicikecike.
18. SINUSINGA
Marga Sinusinga, pecahan marga Manik di kampung Singa.

IV. PERANGIN ANGIN

1. SUKATENDEL
Marga Perangin Angin Sukatendel, datang dari Simalungun, menurut cerita lisan leluhur marga ini dahulu menguasai daerah Pamatang Siantar hingga ke Binjai. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Dari marga ini lahir Peranginangin Kuta Buluh, Jinabun, dan Jambur Beringin.
2. KUTABULUH
Marga Perangin Angin Kuta Buluh, marga ini mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.
3. JINABUNG
Marga Perangin Angin Jinabun, marga ini juga mendirikan kampung Jinabun. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.
4. JAMBUR BERINGEN
Marga Perangin Angin Jambur Beringen, marga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, dan Belingking. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.
5. BANGUN
Bangun, berasal dari marga Damanik di kampung Bangun, dekat Kota Pematang Siantar, Simalungun. Alkisah Peranginangin Bangun dari Pematang Siantar datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang. Marga ini pecah jadi Beliter dan Keliat. Di kemudian hari sebagian keturunan Sinaga Simanjorang yang pindah ke tanah Karo juga berafiliasi dengan marga Bangun.
6. KELIAT
Marga Keliat, menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.
7. BELITER
Marga Beliter, di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.
8. PENCAWAN
Marga Pencawan, nama Pencawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.
9. NAMOHAJI.
10. LIMBENG
Marga Limbeng, berasal dari marga Limbong di Toba dan di Pakpak disebut dengan Lembeng. Marga ini ditemukan di sekitar Pancur Batu.
11. SINURAT
Marga Sinurat, menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buluh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.
12. SEBAYANG
Marga Sebayang, nenek Moyang marga ini bernama Raja Lambing Solin, yang datang dari Natam di Suak Simsim tanah Pakpak yang pindah ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sebayang juga terdapat di Gayo/Alas. Saudara mereka di tanah Alas adalah marga Selian.
13. PINEM
Marga Pinem, keturunan Raja Enggang Solin saudara kandung dari Raja Lambing. Kampung asalnya yaitu Tanah Pinem. Sebagian keturunan Sinaga Simanjorang yang pindah ke tanah Karo ada juga yang menyatu dengan marga Pinem.
14. BENJERANG
Marga Benjerang, berasal dari marga Sinaga Simanjorang di Simalungun, di tanah Pakpak juga dikenal dengan Menjerang dan masuk ke tanah Karo melalui Sikodonkodon.
15. KACINAMBUN
Marga Kacinambun, berasal dari marga Sinaga Simanjorang, marga ini datang melalui Sikodon-Kodon.
16. SINGARIMBUN
Marga Singarimbun, menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, marga ini berasal dari kampung Simarimbun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjung Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.
17. LAKSA
Marga Laksa, menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar. Di Dairi terdapat kampung bernama Laksa.
18. MANO
Marga Mano, marga ini tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung.
19. PENGGARUNG
Marga Penggarun, penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.
20. PERASIH
Marga Perasih, menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.
21. JAB
Marga Jab, keturunan pasukan Majapahit saat melakukan ekspedisi ke Sumatera Timur.
22. UWIR
23. TANJUNG
24. ULUNJANDI
25. PERBESI

V. TARIGAN

1. TAMBAK
Marga Tambak, menurut naskah kuno Partingkian Bandar Hanopan yang pernah diterjemahkan oleh taalambtenaar (ahli bahasa) Belanda Dr. Petrus Voorhoeve, leluhur marga ini bernama Jigou yang datang dari Pagaruyung kemudian merantau ke Simalungun dan menjadi Pangulu Tambak Bawang. Keturunannya bernama Tuan Sindar Lela kemudian mendapat tempat di Kerajaan Silou dan menjabat sebagai Raja Goraha Silou atas bantuan Puteri Hijau. Ia memiliki 2 orang putera yaitu Tuan Toriti yang pindah ke Silou Buntu dan mendirikan partuanon di sana, keturunannya disebut dengan Purba Tambak Tualang. Sementara adiknya Tuan Timbangan Raja mendirikan Partuanon Silou Dunia. Di kemudian hari 2 orang putera Tuan Timbangan Raja bersengketa, yaitu Raja Rubun pindah ke Dolog Masihol, di mana pasca runtuhnya Kerajaan Silou akibat perang saudara, keturunannya kemudian mendirikan Kerajaan Dolog Silou yang menggunakan marga Purba Tambak Lombang. Sedang adiknya Tuan Suha Bolak pindah ke sekitar Tiga Runggu dan mendirikan Huta Suha Bolak yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Panei dan memakai marga Purba Sidasuha. Keturunan Purba Tambak yang menyebar ke tanah Karo menjadi Tarigan Tambak yang kemudian terbagi lagi menjadi Tarigan Tambak Pekan dan Cingkes. Di tanah Karo, marga ini mendiami daerah daerah Kebayaken dan Sukanalu.
2. T U A
Marga Tua, berasal dari Purba Tua di Silimakuta, Simalungun. Marga ini merupakan saudara dari Purba Tanjung di Sipinggan, simpang Haranggaol. Sebagian keturunannya meyakini leluhur marga ini adalah Purba Tambak. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Tua.
3. SILANGIT
Marga Silangit, berasal dari Purba Silangit pendiri kampung Sinembah dan Gunung Mariah. Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur marga ini awalnya berdiam di sekitar Dolog Tinggi Raja. Akibat bencana alam daerah mereka porak poranda yang mengakibatkan keturunannya menyebar ke sejumlah daerah seperti Gunung Mariah, Sinombah, Dolog Silou, Silou Kahean, Raya, dan tanah Karo. Di tanah Karo mereka menjadi Tarigan Silangit.
4. TENDANG
Marga Tendang, berasal dari Purba Tondang di Huta Tanoh, Simalungun dan saudara dari Purba Tambun Saribu. Sebagian keturunannya meyakini leluhurnya berasal dari Purba Parhorbo di Humbang (Toba).
5. TAMBUN
Marga Tambun, berasal dari Purba Tambun Saribu di Harangan Silombu dan Binangara, Simalungun. Marga ini bersaudara dengan Purba Tondang yang menurut sebagian keturunannya meyakini leluhur mereka berasal dari Purba Parhorbo di Humbang (Toba).
6. GERNENG
Marga Gerneng, berasal dari Purba Sigumondrong di Lokkung yang kemudian menyebar ke Cingkes, Marubun, Togur, dan Raya, Simalungun. Marga ini merupakan keturunan dari Purba Tambak yang lahir dari boru Simarmata. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Gerneng.
7. PURBA CEKALA / TARIGAN PURBA
Marga Purba Cekala atau Tarigan Purba, berasal dari Purba Sihala di Purba Hinalang, Simalungun pecahan dari Purba Pakpak. Marga ini mendiami Cingkes dan Tanjung Purba.
8. SIBERO
Marga Sibero, marga ini datang dari Purba Sigulang Batu di Humbang (Toba) lalu pindah ke Tungtung Batu, sebagian keturunannya merantau ke Juhar menjadi Tarigan Sibero dan di Simalungun menjadi Purba Siboro dan di Tanah Gayo menjadi Ceberou. Di Juhar, marga ini membagi diri menjadi Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun Tarigan Jambor Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan). Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan Dombat (wanita). Marga ini menyebar mendiami daerah Juhar, Kuta Raja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringen, Selakar, dan Lingga.
9. GERSANG
Marga Gersang, marga ini bersaudara dengan Siboro yang sama-sama datang dari Purba Sigulang Batu lalu merantau ke Bukit Lehu dan menikah dengan beru Manik puteri dari Raja Mandida Manik di Suak Pegagan. Salah seorang keturunannya ada yang memiliki keahlian meramu obat sehingga dikenal juga dengan sebutan Datu Parulas dan menyumpit burung yang juga digelari dengan Pangultop. Dalam perburuannya ia sampai ke Naga Mariah tanah ulayat marga Sinaga, di mana pada masa itu Tuan Naga Mariah tengah mendapat ancaman dari musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, berkat bantuan si Girsang musuh dari Siantar dapat diatas. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian menikahkannya dengan puterinya dan menyerahkan kekuasaan padanya. Adapun penduduk asli tempat itu yaitu marga Sinaga banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan menjadi marga Peranginangin Bangun. Di tempat itu, Si Girsang kemudian mendirikan kampung Naga Saribu sebagai ibukota Kerajaan Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rakutbesi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Nagamariah. Marga ini terbagi lagi menjadi Girsang Jabu Bolon, Girsang Na Godang, Girsang Parhara, Girsang Rumah Parik, dan Girsang Rumah Bolon. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Gersang. Adapun keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang disebut dengan Girsang Silangit.
10. TEGUR
Marga Tegur, pecahan Purba Tambak atau Purba Sigumondrong yang berasal dari Huta Togur di Dolog Silou. Marga ini mendiami daerah Suka.
11. CINGKES
Marga Cingkes, pecahan Tarigan Tambak di Cingkes (Tingkos) di Dolog Silou.
12. SAHING
Marga Sahing, pecahan Tarigan Girsang dari Huta Saing di Dolog Silou. Di tanah Karo marga ini mendirikan kampung Sinaman.
13. PEKAN
Marga Pekan, pecahan Tarigan Tambak. Di tanah Karo, marga ini mendiami daerah Sukanalu dan Namo Enggang.
14. GANAGANA
Marga Ganagana, marga ini ditemukan di sekitar Batu Karang.
15. BONDONG
Marga Bondong, marga ini banyak ditemukan di Lingga.
16. JAMPANG
Marga Jampang, marga ini mendiami daerah Pergendangen.
17. KERENDEM
Marga Kerendam, menurut Brahma Putro adalah pecahan dari Tarigan Tua, marga ini pindah ke Kuala Pulo Berayan dan salah seorang keturunannya yang bernama Si Nuan Kata pindah ke Siak dan menjadi Sultan disana.

Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd

sumber :
1. Brahma Putro, Karo Dari Zaman Ke Zaman
2. Darwan-Darwin Prinst, Kebudayaan Karo
3. Pustaka Alim Kembaren
4. J.H. Neumann: Batak-Karo Stammen
5. Keputusan Kongres Kebudayaan Karo, 3 Desember 1995
6. Naskah Kuno Partingkian Bandar Hanopan

Mohon maaf kalau salah saya hanya rekam dari teman.

SUMBER : bethel ndraha(facebook)......

Saturday, August 13, 2016

Resmi!! Megawati Sudah Putuskan PDIP Dukung Ahok


TOP news : Jakarta, – Kabar soal siapa yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pilkada DKI 2017 pelan-pelan mulai terkuak. Partai berlambang banteng moncong putih itu, dikabarkan telah menentukan pilihan kepada Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.
Ketua DPD DKI Golkar DKI Jakarta Fayakhun Andriadi menyebut bahwa dukungan untuk Ahokdiputuskan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada Rabu, 10 Agustus 2016.
“Yang saya tahu Rabu siang, Ibu Mega sudah memutuskan PDIP dukung Ahok,” ujar Ketua DPD DKI Golkar Fayakhun kepada Liputan6.com, Jumat malam 12 Agustus 2016.
Saat ditanya, apakah itu sudah menjadi keputusan resmi PDIP, dia hanya mengatakan. “Kita lihat saja sampai tiba saatnya,” ungkap Fayakhun.
Dia hanya menyebut alasan Megawati tetap mendukung Ahok pada Pilkada DKI 2017.
“Bu mega (kabarnya) berkata, PDIP sudah dikenal sebagai pembela minoritas. Kita harus konsisten terhadap Ahok,” tutur Fayakhun.
Karena itu, Fayakhun percaya apa yang disampaikan dan sikapnya kepada Megawati. “Saya percaya pada sikap Ibu Mega. Simpel dan tegas,” tutur dia.
Fayakhun menegaskan, PDIP akan terbuka jika partainya memang memberikan dukungan kepada Ahok.
“Golkar welcome pada partai-partai lain yang ingin bergabung mendukung Ahok. Asalkan mendukung tanpa syarat,” ucap dia.
Sementara, Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno belum berani berkomentar banyak terkait munculnya kabar dukungan partainya kepada Ahok. “Semua indah pada waktunya,” ucap dia.
Saat ditegaskan apakah benar adanya dukungan Ahok langsung yang disampaikan Megawati, Hendrawan enggan membeberkan.
“Sebagai suatu opsi, memang sudah dipikirkan (mengusung Ahok). Tapi, yang saya tahu belum (diumumkan). Belum saya konfirmasi lagi,” tutup Hendrawan.

Tuesday, August 9, 2016

Menyedihkan...!! 7 Partai Besar Ini Bersatu Hanya Pikirkan Untuk Kalahkan Ahok

Plt Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Bambang Dwi Hartono (ketiga kiri) didampingi sejumlah perwakilan partai politik (parpol) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan tertutup di Jakarta, Senin (8/8).


TOP NewsMenyedihkan...!! 7 Partai Besar Ini Bersatu Hanya Pikirkan Untuk Kalahkan Ahok. Katanya Ahok galak, katanya arogan, kafir....gak bakal menang, tapi koq malah bentuk koalisi besar?

Untuk menandingi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI 2017 mendatang, tujuh partai melakukan sebuah pertemuan di Rumah Makan Bunga Rampai, Jakarta. Ketujuh partai itu akhirnya sepakat membentuk 'Koalisi Kekeluargaan'.

Adapun tujuh partai yang datang ke pertemuan itu terdiri dari PDIP, PKB, PPP, PAN, PKS, Demokrat, dan Gerindra. Ketika konferensi pers berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan 'Ahok Tumbang' yang diteriakan berulang-ulang oleh salah satu simpatisan yang tidak diketahui partai politiknya.

"Ahok Tumbang, Ahok Tumbang," dari salah seorang yang tidak dikenal, Senin (8/8), di Rumah Makan Bunga Rampai, Jakarta. Teriakan 'Ahok Tumbang' hampir terdengar di setiap jalannya acara tersebut.
Terkait rencana bakal diduetkannya Tri Rismaharini (Risma) dengan Sandiaga Uno, Ketua DPD Gerindra Muhammad Taufik menyambut bagus dan sesumbar bakal sanggup mengalahkan Ahok.
"Ya bagus dong. Itu bisa 1.000 persen ngalahin Ahok," jawab Taufik.

Tak hanya soal duet Risma-Sandiaga, Taufik juga menyatakan bahwa siapapun yang bakal melawan Ahok pasti akan menang. Baik itu nantinya memajukan Wakil Gubernur DKI Djarot 
Syaiful Hidayat atau Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas). Ia juga menjelaskan, kedua nama tersebut bakal dibahas dalam forum Koalisi Kekeluargaan.


"Siapa saja yang lawan Ahok, dia akan jadi pemenang. Karena Ahok itu akan kalah karena dirinya sendiri. Dan kriteria yang dimunculkan itu adalah dari kriteria yang dikehendaki oleh masyarakat Jakarta. Masyarakat Jakarta kan ingin punya kriteria pemimpin yang seperti itu," ucap Taufik percaya diri.

Seperti diberitakan sebelumnya, ‎pertemuan tujuh partai politik tingkat DKI Jakarta menyepakati terbentuknya koalisi untuk menghadapi Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Plt Ketua DPD PDI Perjuangan, Bambang D.H; ‎Ketua DPW PAN DKI, Eko Hendro Purnomo; Ketua DPD Gerindra DKI, Muhammad Taufik; ‎Ketua DPW PKB DKI, Hasbiyallah Ilyas; Ketua DPD Partai Demokrat DKI, Nahrowi Ramli; Ketua DPW PPP DKI, Abdul Azis; dan Ketua DPW PKS DKI, Syakir Purnomo.(*)

Monday, August 8, 2016

Manusia Lain Sibuk Soal Pilkada, Ahok Sibuk Bersaing Dengan Kota London Soal Fasilitas

Manusia Lain Sibuk Soal Pilkada, Ahok Sibuk Bersaing Dengan Kota London Soal Fasilitas

Bus tingkat pariwisata Jakarta (City Tour) bertambah lagi satu. Tambahan bus tersebut merupakan sumbangan dari bank CIMB Niaga.
 
TOP News - Bus tingkat pariwisata Jakarta (City Tour) bertambah lagi satu. Tambahan bus tersebut merupakan sumbangan dari bank CIMB Niaga.


Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengatakan, dirinya mengimbau perusahaan-perusahaan yang sudah memperoleh untung besar untuk memberikan kontribusi kepada daerah.

"Pak Tigor teman saya. Kebetulan diangkat sebagai
Dirut Niaga. Kamu sumbang dong bus tingkat. Akhir tahun, akan ada 40 bus tingkat seperti ini. Dan ini gak pake duit DKI Jakarta. Ini semua sumbangan," ungkap Ahok dalam sambutannya di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu, (7/8). 
Ahok berharap dengan sumbangan bus dari sejumlah perusahaan tersebut, masyarakat Jakarta dapat menikmati bus dengan fasilitas yang lebih nyaman. Dengan demikian, fasilitas ini akan membuat turis baik lokal maupun internasional betah beraktivitas di Jakarta.

"Kami ingin di Jakarta ini ada banyak bus gratis supaya orang-orang datang ke Jakarta dapat menikmati bus tingkat seperti dulu. Ya harapannya, gak malu sama orang London kalau datang. Orang Inggris datang ke Jakarta ada juga bus tingkat," ujarnya. [jitunews]

Thursday, August 4, 2016

Ahok: Saya Bukan "Ngejar" Jabatan, Cuma Mau Kerja


TOP News- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pasrah jika dukungan untuknya berkurang setelah memutuskan akan maju melalui jalur partai politik pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Basuki mengatakan selama ini dirinya tak pernah berambisi mengejar jabatan gubernur.

"Saya bilang saya di sini bukan ngejar jabatan, makanya saya enggak pernah khawatir jadi gubernur atau enggak. Saya cuma mau kerja kok," ujar Basuki di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (29/7/2016).

Menurut Basuki, dirinya selama ini hanyalah pegawai bagi warga Jakarta. Jika warga Jakarta tidak menginginkan lagi dirinya menjadi gubernur, maka Basuki akan mencari pekerjaan lain.

Karena memegang prinsip tersebut, pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku tidak takut jika tidak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI.

"Kalau orang Jakarta enggak mau nyambung kontrak (kerja) saya, ya sudah, saya keluar cari kerja lagi di perusahaan. Orang saya pegawai kok, sederhana saja," ujar Basuki.

"Kalau cuma pegawai mah gampang, cuma kerja kok, siapa juga kepingin saya kerja, orang (saya) rajin begitu kok dan pengalaman he-he-he," tambah Basuki. (kompas)

Wednesday, August 3, 2016

Ahok: Kalau Saya Arogan, "Ngapain" Orang dari Luar Kota Datang Minta Foto




 TOP News- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama keberatan dirinya disebut sebagai pemimpin yang arogan. Menurut Basuki, justru banyak warga yang selama ini menerimanya dengan baik.

"Sekarang yang bilang saya arogan siapa? Kalau saya arogan, mau enggak masyarakat datang ketemu saya nunggu sampai siang? Logikanya begitu saja," ujar Basuki atau Ahok, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (3/8/2016).

Ahok lalu mengungkapkan aktivitasnya setiap pagi yang melayani aduan warga di pendopo Balai Kota DKI, dan sering menghadiri pernikahan warga. Ahok mengatakan, hal itu tidak mungkin dilakukan jika dirinya arogan.

"Kalau saya arogan, waktu saya datang ke kawinan, mau enggak orang ajak foto? Sederhana saja. Ngapain orang-orang dari luar kota sampai mau datang minta foto pagi-pagi ke sini," ujar Ahok.

Formulir dukungan berkop Forum RT/RW DKI Jakarta beredar di sebuah sekolah taman kanak-kanak di Jakarta Timur. Salah satu orangtua murid di TK itu, Il (41), mengaku diminta pihak sekolah untuk mengisi formulir dukungan tersebut saat acara halalbihalal yang berlangsung pada Jumat (29/7/2016).

Formulir tersebut menyatakan membutuhkan 3 juta KTP untuk menolak pemimpin yang arogan, zalim, temperamental, melemahkan, dan melecehkan RT/RW.

Sumber : kompas

Tuesday, August 2, 2016

Ahmad Taufik, Provokator Kerusuhan Tanjungbalai Kena Stroke Ketika di Tangkap Polisi



Jajaran Subdit IV Cyber Crime Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya telah menangkap AT (41), pelaku penyebaran ujaran kebencian di media sosial, Facebook, terkait insiden di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada Sabtu (30/7/2016).
“Dari hasi pemeriksaan yang bersangkutan alasanya memang selama ini tidak puas dengan pemerintahan yang ada. Kondisi ekonomi dan harga-harga naik,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono, kepada wartawan, Selasa (2/8/2016).
AT teridentifikasi menyebarkan ujaran kebencian di media sosial, Facebook, terkait insiden di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, pada Sabtu (30/7/2016).
Atas perbuatan itu, dia ditangkap di  Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa (2/8/2016). Penangkapan AT dilakukan setelah, aparat kepolisian melakukan penyelidikan melalui media internet (Cyber Patrol).
Meski ditetapkan sebagai tersangka, namun tersangka tidak ditahan karena sedang sakit.
“Tersangka sedang sakit, sakit stroke sehingga tidak dilakukan penahanan, tetapi wajib lapor,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (2/8/2016).
Awi mengatakan, meski tidak ditahan, namun proses hukum terhadap tersangka akan tetap dilanjut. Tersangka dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (2) dan atau Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (1) UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 156 KUHP dan atau Pasal 160 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara.
“Pada saat ditangkap, yang bersangkutan sedang istirahat karena sedang sakit,” imbuhnya.
Pelaku menyebutkan “Tanjung Balai Medan Rusuh 30 Juli 2016 6 Vihara dibakar buat Saudara Muslimku mari rapatkan barisan… Kita buat tragedi 98 terulang kembali Allahu Akbar…”.
Atas perbuatan itu, pelaku telah diamankan. Dia diduga melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45 ayat (2) dan atau Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 156 KUHP dan atau 160 KUHP.
Makanan ini musuh terburuk lemak! Turun 23 kg dalam satu bulan! Di pagi hariMakanan ini musuh terburuk lemak! Turun 23 kg dalam satu bulan! Di pagi hari
Pelaku diancam pidana Pasal 45 ayat (2) pidana penjara paling lama 6 (enam) Tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah). Pasal (1) pidana penjara paling lama 6 (enam) Tahun dan/atau denda banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah).
Selain mengamankan pelaku, aparat kepolisian turut menyita barang bukti berupa satu buah Laptop, dua buah Handphone, dan satu buah Tab.

Monday, August 1, 2016

Program Rusun dan Transjakarta Gratis Bantu Turunkan Angka Kemiskinan di Jakarta



TOP News - Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Provinsi DKI Jakarta, angka kemiskinan Ibu Kota mengalami penurunan. Penurunan angka kemiskinan ini terlihat dari perbandingan angka kemiskinan pada Maret 2015 dan Maret 2016.
Kepala BI Perwakilan DKI Jakarta Donny Joewono mengatakan, menurunnya angka kemiskinan di Jakarta banyak disebabkan suksesnya program penyediaan rumah susun dan layanan transjakarta gratis bagi kalangan tertentu.
"Jadi Pemprov DKI Jakarta itu sudah benartrack-nya untuk menurunkan orang miskin, maka fokusnya adalah yang non-makanan," ujar Donny di Balai Kota, Senin (1/8/2016).
Donny mengatakan, secara umum penghitungan angka kemiskinan mengacu pada pendapatan per kapita dan jumlah penduduk. Namun, kata dia, Jakarta memiliki karakteristik sendiri.
Ada yang berbeda antara penyebab kemiskinan di Jakarta dengan daerah lain. Menurut Donny, jika naiknya angka kemiskinan di daerah lain terkait dengan faktor kebutuhan pangan, maka di Jakarta lebih dikarenakan kebutuhan non-pangan.
"Jadi orang di Jakarta itu gajinya sebagian besar untuk transportasi sama perumahan. Miskinnya gara-gara itu. Misal sewa rumah, kontrak rumah, jadi gajinya orang Jakarta itu beda sama orang Jateng sama Jatim," ucap Donny.
Data mengenai angka kemiskinan yang dirilis Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta ini berbeda dengan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta. Pada Juli lalu, BPS menyatakan bahwa angka kemiskinan di Jakarta meningkat 0,14 poin.
Berdasarkan data BPS itu, pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin di Jakarta mencapai 384.300 orang atau 3,75 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Ibu Kota.
Jumlah penduduk miskin itu lebih tinggi dari data pada September 2015 yang mencapai 368.670 orang atau 3,61 persen dari jumlah penduduk DKI.
Sementara itu, berdasarkan data BI, angka kemiskinan di Jakarta yang mengacu pada kondisi pada bulan Maret 2016 juga dibandingkan dengan kondisi pada bulan Maret 2015, bukan pada bulan September seperti yang dilakukan BPS.
"Jadi Maret sebelumnya sama Maret tahun ini turun sebenarnya, 400 sekian ribu. Sekarang garis kemiskinan di DKI itu 4,71 persen dibanding dari tahun sebelumnya 8-10 persen," kata Donny.
Secara keseluruhan, BI menyatakan kemiskinan di Jakata terus mengalami penurunan sejak 2013.
"Kalau dilihat datanya dulu kemiskinan di DKI tahun 2013 7,49 persen, 2014 9,91 persen, 2015 8,84 persen, dan sekarang jadi 4,71 persen," papar Donny.
Penulis: Alsadad Rudi
Editor: Fidel Ali

SUMBER : kompas.com