c

Selasa, 19 Juli 2016

Demokrat: SBY Harus Mundur atau Dilengserkan!


TOP News- SBY sepertinya mulai kena batunya. Mantan penguasa 10 tahun ini mungkin tak lama lagi akan terpental dari dunia politik tanah air. Jika sebelum ini SBY tak tergoyahkan di pimpinan Demokrat, kini mulai ada suara ancaman kritik sangat serius dari internal partai.
“Beliau tidak bisa mengadakan sebuah perbaikan. Dalam kondisi ini kan daya tariknya sudah enggak ada, wong  beliau presiden saja hancur partainya, apalagi beliau nggak presiden,” ungkap Hencky Luntungan.
Menurut Hencky, Demokrat bukanlah partai Cikeas. Komunitas pendiri partai ada 99 orang, dan ternyata saat ini tidak satu suara mendukung SBY. Ini karena SBY kerap menjalankan sistem feodalisme di dalam kepartaian, bahkan ketika menjadi ketua dewan pembina. Banyak kader di daerah dipecat hanya karena bersuara kritis.
“Apalagi ketika dia melibatkan Ibas (Edhie Baskoro), yang tidak tahu apa-apa tentang partai ini. Kemudian dia melangkahi dan melupakan sejarah partai ini bahwa partai ini hanya didirikan di Cikeas, itu sangat naif, itu bahaya,” pungkas Hencky.
Partai Demokrat di bawah cengkraman SBY jauh lebih buruk dari Golkar di tangan Bakrie. Golkar masih memiliki mesin partai yang atraktif, siapapun ketuanya. Sementara Demokrat tidak punya mesin penggerak untuk mendulang suara. Minim terobosan, tak ada sumbangsihnya pada negara kecuali menyumbang koruptor.
Sejak ditinggal Anas Urbaningrum, suara Demokrat semakin habis. Bahkan pada Pilkada 2015 lalu berhasil jadi partai gurem, nomer 6 di bawah PKS dan Hanura.
Jika mengingat kisah beberapa tahun yang lalu, Anas ini seperti anak haram yang tak diharapkan oleh tuannya. Menurut cerita teman Anas, SBY bahkan meminta agar Anas tidak mencalonkan diri sebagai ketua Demokrat. Namun Anas menolak dan tetap maju, sampai akhirnya bisa memimpin Demokrat dan semakin mendominasi.
Saat Demokrat semakin didominasi pendukung Anas, saat itulah Anas dijerat kasus korupsi. Kebetulan? Entahlah. Intinya begitu. Dan SBY yang masih jadi Presiden saat itu mengambil alih Partai Demokrat.
Harapan bahwa Demokrat kembali membaik dan mendapat simpati publik nyatanya hanya hitungan di atas kertas. Di lapangan, Demokrat besar dengan tangan-tangan aktivis jaringan Anas Urbaningrum. Tanpa Anas, Demokrat hanya seperti macan ompong yang hanya bisa makan terong.
Dulu banyak yang tak percaya dengan opini seperti itu, namun sekarang sudah terbukti, Demokrat menjadi partai gurem di bawah PKS dan Hanura. SBY boleh punya citra yang baik, tapi itu jadi tak ada gunanya tanpa pergerakan.
Dengan kondisi yang semakin memburuk inilah kemudian Hencky bersuara sangat keras. Menjadi lebih menarik karena Hencky adalah orang yang masuk dalam tim penyelamat Partai Demokrat yang dulu melengserkan Anas Urbaningrum. Jika sekarang Hencky kembali bersuara, maka kemungkinan besar selama ini mereka terjerat tipu daya pencitraan SBY. Sekarang Hencky dan teman-teman pendiri partai sadar bahwa SBY tak mampu berbuat banyak.
Tak tanggung-tanggung, Hencky meminta SBY mundur dari posisi ketua umum Demokrat. Jika tidak, maka SBY harus dilengserkan dengan tidak hormat lewat KLB atau kongres luar biasa.
Sebagai penikmat politik tanah air, saya sangat berharap SBY bisa mundur dengan legowo. Sebab jika sampai terjadi dualisme dan ‘dibuang’ seperti Bakrie, betapa tragisnya nasib SBY seorang penguasa Indonesia 10 tahun.
Tapi sebagai Pakar Mantan, saya cukup prihatin. Sebab kalau SBY lengser dari ketum Demokrat, maka statusnya jadi Pak Mantan Kuadrat, disingkat PMK. Sementara saya belum siap untuk membahasnya dengan prihatin kuadrat.
Begitulah kura-kura.
sumber : seword.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar