Sponsor

Tuesday, June 7, 2016

Basuki Dibenci Partai, Disayang Warga Jakarta


TOP news- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama terkenal dengan sosok pribadi yang sering kali berkata-kata kasar dan suka marah-marah. Karakternya ini membuat Basuki dibenci partai politik, tetapi ternyata tetap disayang oleh warga Jakarta.
Demikian hasil survei yang dilakukan Pusat Data Bersatu. Survei dilakukan dengan metode wawancara dilakukan melalui telepon dari tanggal 26 Mei hingga 1 Juni 2015 di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Responden dipilih secara acak sistematis berdasarkan buku telepon residensial yang diterbitkan PT Telkom. Jumlah sampel sebanyak 422 orang mewakili masyarakat pengguna telepon di DKI Jakarta. Margin of error lebih kurang 4,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Peneliti Senior PDB, Agus Herta mengatakan pemilih Basuki berdasarkan aviliasi partai politik, survei mencatat warga Jakarta yang berafiliasi ke PDI Perjuangan lebih banyak memilih Basuki, sebanyak 24,5 persen. Disusul oleh Partai Gerindra sebanyak 4 persen serta Partai Demokrat dan Nasional Demokrat (Nasdem) masing-masing 2,6 persen.
Kemudian yang menyatakan golput sebesar 9,9 persen. Sedangkan responden yang menyatakan rahasia sebanyak 8,6 persen dan tidak tahu sebanyak 41,1 persen.
“Selain swing voters, pemilih Basuki banyak yang beraviliasi ke PDI Perjuangan. Sedangkan pemilih dari partai lainnya relative sedikit termasuk dari Partai Gerindra, yang dulunya mengusung Basuki menjadi Wakil Gubernur DKI pasangan Jokowi,” kata Agus dalam jumpa pers di Park Royale, Jakarta, Jumat (26/6).
Pengamat Politik dari Universitas Nasional (Unas), Alfan Alfian mengatakan ada tiga alasan mengapa Basuki tetap dicintai oleh warga Jakarta, meski terkenal dengan sosok dengan emosi meledak-ledak diiringi kata-kata kasar.
Alasan pertama, pemilih rasional melihat Basuki adalah pemimpin unkonvensional yang masih nyata dalam kehidupan masyarakat.
Artinya, Basuki memiliki terobosan-terobosan baru dalam pembenahan birokrasi pemerintahan daerah. Tidak berdasarkan cara-cara lama atau konvensional.
Alasan kedua, pemberitaan media menempatkan Basuki sebagai tokoh protagonist. Artinya, apa pun konflik yang terjadi dalam jalannya roda pemerintahan daerah di Jakarta, Basuki tetap menjadi tokoh yang selalu dibela oleh media dan masyarakat.
“Alasan ketiga, adalah Basuki dinilai telah menjadi seorang pemimpin yang mampu memimpin. Inilah kelebihan-kelebihan Basuki yang membuat dia masih dicintai, meski dibenci partai politik,” ujarnya.
Tetapi ada juga kekurangan-kekurangan Basuki yang harus mendapatkan perhatian, yaitu kesantunan dalam bertutur kata dan sopan santun dalam bertindak.
“Untuk melawan Basuki, dibutuhkan tokoh yang juga unkonvensional tetap harus dapat menutupi kelemahannya ini. Maka lawan itu bisa menang. Ridwan Kamil dan Risma itu tokoh yang masuk akal. Kalau Foke kurang bisa, karena masih termasuk konvensional leader,” jelasnya.

Lenny Tristia Tambun

No comments:

Post a Comment