c

Minggu, 01 Mei 2016

Kisah bocah yang menyelamatkan 23 anjing di Bali

TOP news - Bagi Dewi Laina Pertiwi, bocah berusia 12 tahun di Ubud, Bali, anjing bukan sekadar binatang peliharaan, tetapi juga juru selamat.
Kisahnya bermula sekitar dua tahun lalu, ketika Dewi menderita sakit akibat keracunan roti dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari, cerita ayahnya Oka Yasna.
Oka yang melihat anak anjing hitam di jalanan, kemudian memungutnya dan memberikannya kepada Dewi.
"Saya bilang ke Dewi, 'Dewi ini ada anjing, Dewi kan senang dengan anjing," cerita ayah yang bekerja sebagai pematung itu.
"Waktu belum lihat anjing dikasih susu, dikasih makan enggak mau, enggak bisa muntah, dan lemas. (Tetapi) waktu dapat anjing dia bisa muntah, sampai tiga kali. Lalu dia duduk dan tersenyum, memeluk anjing. Besoknya sudah dipersilahkan dokter untuk pulang."
Sejak kejadian itu, Dewi memandang anjing sebagai penyelamatnya. Dia menyayangi Selem, anjing hitamnya, dan membawanya ke sekolah.
Image captionDewi menggendong Salem, anjingnya yang kini sudah besar.
Lebih dari itu, anak perempuan yang kini duduk di kelas enam SD itu, bagai membalas budi, tergerak untuk merawat anjing-anjing liar lain, yang terlantar.
"Sampai sekarang kalau ada anjing dibuang, dipungut, tidak tahu dia risikonya digigit. Kasihan anjing, katanya, karena dia menyelamatkan saya, saya harus menyelamatkan anjing," kata Oka menirukan ucapan Dewi.

Berisiko

Berkunjung ke tempat tinggal mereka di Desa Mas, Sabtu (23/01), puluhan anjing menyambut saya. Sebagian menggonggong was-was karena kehadiran orang asing, tetapi yang lain mendekati saya dengan antusias, mengibas-ngibaskan ekornya.
Dewi kemudian bercerita tentang seekor anjing yang baru diselamatkan kemarin malam. "Itu yang kecil, belum diberi nama. Tak pernah makan, ketemu di got di depan, kecil sekali," katanya.
Anjing mungil berwarna hitam itu tampak sakit, dengan nafas yang berat dan perut membesar.
Totalnya ada sekitar 23 ekor anjing di rumah itu, tetapi tak semua diberi nama. "Ada Marmut, ada Salem, ada Selem, ada Pompei, ada Blacky, ada Meri, Selsa, Selsi, Koming, Aldo, Aldi, Alda... Itu saja deh," kata Dewi sambil menghitung.
Menurut Made Suwana, tim edukasi lembaga penyelamat satwa Bali Animal Welfare Association (BAWA), penyelamatan anjing yang dilakukan Dewi merupakan cerita yang langka di Bali.
"Warga biasanya suka membuang anjing. Bukan berarti mereka tidak sayang anjing, tetapi mereka tidak mampu mengurus mereka. Ada anjing betina punya delapan anak misalnya, tidak mungkin dipelihara semua, jadi biasanya yang anak anjing betina mereka buang di tempat umum berharap ada yang memungut," kata Made.
Namun Made memperingatkan bahwa orang-orang tidak bisa memungut anjing dari jalanan begitu saja, karena ada risiko penularan penyakit seperti rabies misalnya, yang beberapa tahun lalu sempat menjadi kasus besar di Bali.
Kini, anjing-anjing Dewi, dengan bantuan BAWA, telah disteril dan divaksin untuk pencegahan penyakit dan kontrol populasi.

Senang

Oka mengaku tak berkeberatan anaknya terus membawa pulang anjing-anjing liar. "Yang penting Dewi sehat dan senang," katanya.
"Bangun pagi jam enam dia sudah bercanda dengan anjing, juga dengan kakaknya. Kalau tidak lihat satu, dicari sama dia. Kalau ndakketemu, ndak sekolah. Kalau ketemu baru sekolah."
Selagi Dewi dan kakak laki-lakinya, Wirakusuma, menyiapkan makan siang untuk peliharaan mereka, kami menemukan anjing kecil yang baru diselamatkan malam kemarin sudah terkulai di bawah pohon pisang.
Tubuhnya lunglai dengan nafas yang lamban dan perlahan menghilang. Made Suwana - yang ikut dalam kunjungan dan kemudian memanggil dokter hewan - tidak bisa memastikan penyebab kematian namun diduga karena penyakit menular distemper.
Anjing kecil hitam itu kemudian dikubur di belakang rumah oleh Oka. Dan di gundukan tanah itu, Dewi menaburkan bunga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar