c

Selasa, 05 April 2016

Cerita Anak Koh Ahok, Nicholas Sean Purnama tentang FPI Sampai Curhat Lagi Jomblo ......


Beritateratas.com - Nicholas Sean Purnama atau yang akrab dipanggil Nico mulai menjadi pusat perhatian saat pelantikan ayahnya sebagai Gubernur DKI, Rabu (19/11). 
Ahok memiliki tiga anak, dua putra, Nicholas Purnama dan Daud Albeenner Purnama dan seorang putri, Nathania Purnama.

Postur wajah yang dimiliki Nico nampak layaknya tipe idola anak muda masa kini.
Beberapa komentar di media sosial pun melontarkan kicauan seperti “Anak pak ahok ganteng ya”. Bahkan, di media sosial pun sudah tersebar foto-foto si ganteng Nicholas Sean Purnama.

Nicholas adalah pemuda berusia 16 tahun yang kini tercatat bersekolah di SMA Pelita Harapan kelas dua. Menghadiri pelantikan ayahnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Sean mengurai pendapat bahwa Ahok bukanlah sosok yang galak seperti anggapan banyak orang, seperti dilansir Merdeka.

"Papa jadi Gubernur atau enggak sama aja ya, kan tiap malam kita ketemu. Kita juga suka nonton bareng di luar. Terakhir itu kita nonton film JOHN WICK. Aku sih suka main game, cuma nggak pernah ajak papa karena nggak bisa main. Padahal kalau main Call of Duty bareng seru juga ya," cerita Sean.
Mengomentari soal Ahok yang sering jadi sasaran demi FPI, Sean pun memilih tak ambil pusing. "Saya nggak pernah mikirin dan ngebahas itu. Papa juga nggak pernah bahas, nggak ambil pusing lah," tutup pemuda ganteng ini.

Sean pun mengaku tak paham bahasa Khek, bahasa daerah Belitung. Sehari - hari Sean bekomunikasi memakai bahasa Inggris.
“Kalau Khek, aku nggak bisa. Lagian, aku lahir dan besar di Jakarta. Terus, kalau ngomong sama Papa kebanyakan pake Inggris, tapi aku bisa ngomong Hokkian sedikit. Karena, diajarin Mama.”

Ibu Veronika berasal dari Medan. Hokkian itu dialek yang suka dipake sama orang-orang Cina di Medan. Nggak di Medan doang sih, tapi juga di tempat lain. Cuma kayaknya Hokkian di Indonesia itu identik dengan orang Cina Medan.

Orang Cina modern di zaman sekarang, udah nggak lagi mengharuskan anak-anaknya untuk mahir berbahasa daerah. Bahkan, mereka udah nggak lagi menutup diri untuk pakai bahasa Inggris di rumah.

Beda sama orang Cina zaman dulu. Kalau nggak bisa ngomong bahasa daerah, pasti bakal dihina-hina sama orang yang lebih tua. Dianggap orang Cina Medan atau Belitung palsu! Dan kalau bisa ngomong, tapi logatnya jelek banget, juga dihina-hina. Ya gitu deh. Nggak bisa ngomong salah. Belajar ngomong, tapi nggak perfek juga salah.
Di keluarga Koh Ahok, nggak semuanya berbisnis, seperti orang Cina pada umumnya. Ya bisnis sih  ada, tapi mereka kayaknya lebih aktif di bidang yang lain. 
Setidaknya, begitulah kata Om Harry. Seperti yang kita tau, Koh Ahok sendiri bergerak dalam bidang politik. Sedangkan adik pertamanya, Basuri Tjahaja Purnama jadi dokter, dan kalah di Pilkada Belitung dari Adiknya Yusril Ihza Mahendra.
Adik keduanya, Fifi Lety jadi pengacara dan Om Harry bergerak  bidang pariwisata dan kadang juga di bidang budaya dan hiburan.
Begitu juga dengan Sean yang nggak pengin jualan.
“Aku pengin jadi dokter bedah. Nggak suka jualan. Lagian, Matematikaku juga nggak begitu bagus. Makanya aku ambil les Matematika,” imbuh Sean.
Sean juga mengaku tak tertarik dengan dunia politik yang ditekuni ayahnya.
“Nggak juga. Aku nggak tertarik masuk politik. Untuk saat ini sih belum, ya.”
Beda banget sama orang Cina zaman dulu yang lebih suka anak-anaknya jualan kayak mereka. Anak-anak kayak nggak dibolehin punya cita-cita yang lain. 
Nggak bisa disalahin juga sih kenapa orang Cina bisa mendidik anak kayak begitu. Karena, dulu orang-orang Cina itu mengalami diskriminasi. Mereka nggak punya kesempatan untuk mencoba berbagai peruntungan. Bolehnya cuma berdagang. Ya udah deh, akhirnya dagang doang.
Beda dengan zaman sekarang. Di mana udah banyak orang Cina yang unjuk gigi di bidang yang lain, selain dagang. Meskipun bullying terhadap orang Cina masih ada. Kayak Koh Ahok yang sering di-bully, karena darah Cina yang mengalir di tubuhnya.
Selain les Matematika, Sean juga ambil les Mandarin, wushu dan gitar. Pas tau anak ini lesnya banyak, pasti kalian langsung bilang ‘Ih, Cina banget, ya! Les mulu!’. 
Nah, kalau yang ini gue emang setuju. Keluarga Cina itu emang sangat mengutamakan pendidikan dan skill. Meskipun ujung-ujungnya kerjaan mereka bakal kembali ke toko atau bantu-bantu bisnis orangtua, tapi pendidikan dan skill emang penting banget buat orang Cina. 
Di keluarga Asia, terutama Cina biasanya nilai rapor atau ijazah merupakan hal terpenting. Kalau dapet nilai jelek dianggep goblok. Kalau dapet B dianggep kurang pinter, karena belum bisa dapet nilai A. Begitu udah dapet nilai A dianggep biasa aja, karena yang lain juga banyak yang dapet nilai A. Serba salah pokoknya!
Kalau di keluarga Koh Ahok, tak terlihat adanya sifat orangtua yang diktator dalam hal pendidikan. Soalnya, Sean bukan anak yang gila nilai atau terobsesi untuk jadi nomor satu di sekolah. Anaknya santai dan woles banget! Bikin resolusi buat tahun baru aja nggak pernah.
Begitu juga dengan menunjukkan bahasa kasih di keluarga. Sesibuk-sibuknya Koh Ahok jadi gubernur, doi masih sempat meluangkan waktu di pagi hari bersama keluarga buat doa bareng sebelum berangkat gawe.
“Papa juga suka kasih nasihat supaya aku tetep dekat sama Tuhan dan punya hidup yang benar,” kata Sean.
“Terus, kamu jadi tetep deket sama Tuhan dong?”
“Nggak juga sih. Kadang suka khilaf. Hihihi,” katanya cengengesan.
Kebanyakan anak-anak di keluarga Cina jarang bisa akrab sama orangtuanya. 
Karena, dari orangtuanya sendiri kurang tau cara mengungkapkan bahasa kasih berupa kata-kata ke anak-anak. Mereka nggak biasa bilang kata-kata sejenis ‘I love you’ ke anak-anaknya. 
Mereka lebih suka menunjukkan kasih sayang dengan perbuatan nyata, kayak kasih duit, anterin anak ke sekolah dan lain-lain. Makanya, anak-anaknya pun juga bersikap kaku ke orangtua. Mereka mikir kalau orangtuanya nggak pernah sayang, jadi mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman, ketimbang keluarga. Untungnya sih, keluarganya Koh Ahok nggak begitu.
Lalu, mungkin kalian sering berpikir kalau orang-orang Cina yang kaya raya pasti bakal lebih sering menghabiskan liburan mereka dengan menghambur-hamburkan uang di luar negeri. Tapi, nggak semuanya begitu. Contohnya Sean yang lebih memilih buat pulang kampung ke Belitung pas Natalan dan Tahun Baru nanti.
“Aku lebih suka main ke Belitung pas libur, daripada ke luar negeri. Karena, suasana di Belitung sejuk. Pantainya bagus banget dan makanannya enak-enak!” curhat Sean yang katanya jarang ke luar negeri.
Dari hal itu, gue menilai bahwa masih ada orang Cina yang nggak melulu bolak-balik ke luar negeri. Masih ada orang Cina yang lebih suka menjelajah negeri sendiri dan menikmati keindahan Indonesia. Dan sepertinya, Sean ini lebih suka menggunakan produk dalam negeri ketimbang produk impor. Kayaknya sih begitu, ya. Setidaknya begitulah pemikiran Kak Uung.
Buat kalian yang jomblo, kayaknya kalian nggak perlu jadi ngenes atau berpikir bahwa hidup kalian yang paling menderita. Karena, anak ucul dan keren kayak Sean aja belum pernah pacaran

sumber : beritateratas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar