c

Senin, 05 Desember 2016

Kasus Ahok dinilai tak layak dilanjutkan, ini penjelasan hukumnya




"Saya menyatakan bahwa proses pidana atas dugaan penistaan agama atas Basuki semestinya tidak berlanjut, karena yang bersangkutan telah meminta maaf," ucap Hendardi saat dihubungi wartawan, Senin (5/12).

Sebab, dia menjelaskan, pada Pasal 2 aturan itu, berbunyi:

(1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. 

"Jika mengulangi perbuatannya, baru kemudian dipidana," kata Hendardi.

Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka, Rabu (16/11) lalu. Penetapannya sebagai tersangka, berdasarkan alat bukti video pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September lalu, sejumlah dokumen, dan keterangan sejumlah ahli yang menilai perkara ini perlu dilanjutkan ke tahap penyidikan.

Sebelum Ahok ditetapkan sebagai tersangka, berlangsung aksi unjuk rasa yang diikuti ratusan ribu orang, pada Jumat (4/11). Aksi itu, menuntut hukum ditegakkan dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok.

"Saya melihat adanya tekanan massa ini lah yang jadi penyebab penetapan tersangka," ujar Hendardi.

Menurut Hendardi, penetapan Ahok sebagai tersangka menjadi preseden buruk bagi promosi pemajuan kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia. Penegakan hukum atas dugaan penodaan agama tidak sepenuhnya dijalankan dengan mematuhi prinsip due process of law. Tapi, Hendardi berharap, keputusan yang dibuat Polri patut dihormati. Sebab, keputusan Polri adalah produk institusi yang patut dihormati.

"Nuansa tertekan, terlihat dalam proses penyidikan. Tetapi karena telah menjadi putusan institusi penegakan hukum, maka proses hukum harus dihormati," imbuh Hendardi.

Sementara itu, Kejaksaan Agung telah memutuskan, bahwa perkara tersangka Ahok telah dinyatakan P21. Berarti administrasi penanganan perkara oleh jajaran Pidana Umum Kejaksaan menyatakan berkas perkara hasil penyidikan Bareskrim Polri telah memenuhi syarat untuk dibawa ke pengadilan secara formal dan material.

Perkara Ahok dinyatakan P21, setelah sebelumnya Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menyerahkan berkas perkara tahap pertama kasus yang menjerat Ahok kepada Kejaksaan Agung, Jumat (25/11). Lima hari berselang, Kejaksaan menyatakan perkara Ahok P21.

"Secara umum tidak ada ketentuan batas waktu. Tetapi memang ini terlalu cepat dan tidak lazim, pernyataan P21 begitu cepat," tutup Hendardi.
(merdeka.com)

Nasaruddin Umar : Ahok Jalankan Tugasnya Dengan Ajaran Islam, Namun Tidak Ada Aksi Bela Islam Yang Membelanya



TOP News- Islam melarang pelacuran. Hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Tapi Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan pentingnya pendidikan. Ketika Ahok kondisiten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan kesejahteraan. Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu) adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang bermain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RTPA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongan di P. Seribu, dan sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya. Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembala agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok dipenjara.

Dipenjara karena tindakan jahatnya? Atau karena korupsi? Atau karena mengabaikan amanah? Bukan Juga Karena Penistaan Agama ..!!



*MARI JANGAN PADAMKAN SEMANGAT PERJUANGAN PAK AHOK SELAMA INI, 
KITA TUNJUKAN SIMPATI KEPADA BELIAU DENGAN BERBAGI KEBAIKAN BERJILID-JILID, KITA AKAN MEMBAGIKAN PAKET KEBUTUHAN SEHARI-HARI KEPADA PARA TAHANAN TEMPAT PAK AHOK DITAHAN, WALAU PAK AHOK SAAT INI SUDAH PASRAH, KITA BUAT BELIAU MENJADI SALURAN BERKAT DIMANAPUN DIA BERADA, SAAT INI SUDAH TERKUMPUL 30 JUTA LEBIH, BAGI YANG INGIN IKUT BERBAGI KEBAIKAN SILAHKAN KLIK LINK INI →→→(KLIK DISINI) BERBAGI KEBAIKAN BERJILID-JILID
20.000/ORANG TENTU TIDAK MEMBERATKAN TEMAN-TEMAN SEPERJUANGAN.

JANGAN BIARKAN BELIAU MERASA DITINGGALKAN OLEH PARA PENDUKUNGNYA, KITA BUAT AKSI BERJILID-JILID SELAMA PAK AHOK DI TAHAN.


Ditanya Apa Kasus Ahok Penuhi Unsur Penistaan Agama? ini Jawaban Mengejutkan Otto Mantan Pngacara Jessica


Pakar Hukum Pidana, Otto Hasibuan menilai proses hukum dugaan penistaan agama yang menyeret Calon Gubernur Petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berlangsung super cepat, mulai dari proses penyelidikan hingga P21 tidak lazim, sehingga masyarakat harus mengawal kasus ini.

"Meski tidak ada yang salah, percepatan proses hukum kasus ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini tidak biasanya. Namun bagaimanapun, memang tidak bisa dihindari, nuansa politis dalam kasus Ahok ini sangat kental sekali. Apalagi ini mencuat disela-sela masa kampanye Pilkada DKI Jakarta," ujarnya di Jakarta, Minggu (4/12).

Menurut Otto, berdasarkan kaidah hukum normal, percepatan penuntasan kasus ini oleh polisi dan jaksa dengan membawa ke pengadilan tidak pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun tidak ada yang dilanggar, pengacara Jesica ini enggan berspekulasi soal motifnya.
Sebelumnya Kejaksaan Agung memutuskan dan menyatakan bahwa perkara tersangka Ahok, telah ditanyakan P21.

Artinya administrasi penanganan perkara oleh jajaran Pidana Umum Kejaksaan menyatakan berkas perkara hasil penyidikan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah memenuhi syarat untuk dibawa ke pengadilan secara formal dan material.

Untuk itu, Otto menegaskan, masyarakat wajib mengawal kasus Ahok ini.

Hal ini penting agar prosesnya on the track.

"Apakah ada intervensi politik dalam kasus ini, nanti kita bisa lihat dalam putusan hakim yang sebenarnya. Kalau didalam proses acaranya, mulai proses penyidikan yang cepat hingga P21 yang super cepat, ini mungkin karena situasi yang kurang kondusif dalam masyarakat. Artinya, sebagai warga negara bisa memakluminya. Tetapi, tetap pertimbangan hukum mesti dikedepankan," tambahnya lagi.

Otto mengatakan yang paling utama dari kasus Ahok ini adalah memastikan proses persidangan berjalan merdeka tanpa intervensi.

Demikian juga saat majelis hakim membacakan putusannya, harus dijaga agar putusan itu mencerminkan rasa keadilan.

Dia berharap agar hukum ditegakkan sebaik-baiknya dalam kasus Ahok ini agar jangan sampai proses pengadilan salah dalam mengadili perkara.
Untuk itu, tidak boleh ada intervensi dari siapapun.

"Putusan hakim harus seadil-adilnya mencerminkan wakil Tuhan dibumi," tuturnya.

Namun dia optimis lembaga peradilan di Indonesia masih menjadi rumah yang aman bagi pencari keadilan.

Meskipun dalam beberapa kasus, pengadilan justru menjadi palu godam bagi pencari keadilan.
"Soal percaya atau tidak percaya dengan dunia hukum di Indonesia, mau tidak mau harus dihadapi. Kita tidak menutup mata, ada peradilan yang baik, ada yang tidak baik, ada hakim yang baik, ada pula yang tidak baik. Demikian juga dengan pengacara, ada yang baik dan ada pula yang tidak baik," jelasnya.

"Ada jaksa, hakim dan pengacara yang korupsi, ada juga yang tidak," tuturnya.

Ketika ditanya, apakah kasus Ahok ini sudah memenuhi unsur penistaan agama?
Otto mengatakan tudingan penistaan ini tidak hanya bisa dinilai dari kata per kata.

Tetapi harus dilihat secara utuh konteksnya.
Dia menambahkan mengingat ini sudah masuk materi perkara, maka sulit memberikan pendapat dalam kasus ini.

Apalagi sudah ada bukti, saksi fakta dan saksi ahli.
"Kebetulan saya tidak punya bukti materi dan tidak mempelajari langsung bukti-bukti tersebut. Apakah memenuhi unsur penistaan atau tidak, hanya majelis hakim di pengadilan yang akan menilai," imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan bantuan pendampingan 1000 pengacara Peradi mendampingi Ahok, dia mengatakan tim advokasi Peradi ini tidak khusus disiapkan untuk menangani kasus tersebut.

Tetapi tim ini disiapkan untuk membantu seluruh anak bangsa yang mengilkuti kontestasi pilkada untuk melakukan pendampingan hukum agar para calon kepala daerah tidak menjadi korban kriminalisasi.

Dalam rangka menegakan supremasi hukum, pihak yang tergabung dalam asosiasi ini siap melakukan pendampingan hukum.

Namun tidak khusus membela kasus Ahok, melainkan siapapun jangan sampai dikriminalisasi dalam kasus-kasus tertentu hanya karena untuk menjegal seseorang menjadi kepala daerah.

Sumber: tribunnews

Minggu, 04 Desember 2016

Hanya Karena Foto Bareng Ahok dan Bawa Al Qur'an, Linda Perempuan Berkerudung Dituduh Begini di Media Sosial



TOP News -Seorang wanita berkerudung mengaku dirinya di-bully dan dituduh pelacurnya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) Cagub Petahana DKI nomor urut 2 setelah foto bersama sambil memegang Al Qur’an, seusai dialog di Rumah Lembang minggu lalu (20/6) diunggah orang di media sosial.

Linda yang berangkat dari rumahnya di Cibubur setelah Sholat Subuh mengatakan tetap teguh dan berkeyakinan untuk mendukung  pemimpin yang amanah, Basuki Tjahaja Purnama karena keberhasilan kinerja dan tidak korupsi. “Saya sampai dibilang pelacurnya Bapak Ahok oleh mereka, karena saya memilih Pak Ahok.Teganya mulut mereka mengatakan seperti itu kepada saya. Saya yakin pilihansaya tidak salah dengan Bapak Ahok,” tegas Linda sambil bercucuran air mata.
Karenanya, dia berharap supaya eks-Bupati Belitung Timur itu bisa kembali memimpin Jakarta dengan membenahi dan terus membangun Jakarta baru ke arah lebih baik.
Linda yang menggunakan kerudung krem untuk kedua kalinya hadir (Jumat, 1/12) di Rumah Lembang untuk memberikan testimoni dukungan kepada Ahok, ditengah demo aksi super damai 212 serta  mendoakan hingga membuat warga lain yang hadir berkaca-kaca matanya.
Menurut dia, Al Quran adalah cahaya bagi siapapun, seharusnya sebagai seorang muslim bukan memusuhi Basuki justru malah merangkul. “Saya ada disini ingin membuktikan bahwa Al Quran saya  merupakan cahaya bagi siapapun. Seharusnya sebagai seorang muslim kita harus menjamah Ahok dengan rahmat Allah, bukan malah menghina atau mencaci beliau,” jelas Linda dengan terbata-bata.
Linda mengatakan dirinya terus shalat tahajud dan berdoa untuk Basuki Tjahaja Purnama karena percaya bahwa semua ini merupakan isyarat dari Tuhan. “Kita tidak pernah jujur bahwa setiap hari kita melakukan penistaan agama. Tapi kita tetap tertawa dan senang saja bila melihat itu. Tapi seorang Ahok yang tidak pernah mengerti, keluar dari bahasa mulutnya. Pasti ini sesuatu yang luar biasa. Tidak main-main bila Tuhan mengeluar kata-kata itu melalui mulut seorang Ahok. Pasti ada suatu maksud yang luar biasa,” tegasnya.
Lebih lanjut Linda juga mengatakan, bahwa kemunafikan yang telah mereka lakukan sebenarnya yang harus dihilangkan, karena letak kemunafikan itu ada dalam diri kita. “Saya tidak peduli dengan tuduhan itu, walau harus dibenci karena mendukung dan membela pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat.”
Suasana di Rumah Lembang Jumat pagi memang sedikit berbeda, yang biasanya selalu dipadati sekitar 1000an warga yang mengadu kepada pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Basuki-Djarot, tapi kali ini sedikit berkurang.jakartaasoy

Kamis, 17 November 2016

BREAKING NEWS...!!! Hari ini Ahok di tahan...



Hari ini Ahok blusukan ke beberapa wilayah di DKI dan di tahan oleh beberapa warga untuk berfoto dan bersalaman, karena mereka sudah lama menantikan kedatangan Ahok ke wilayahnya,
Hampir setengah jam warga menahan Ahok hanya untuk sekedar salaman dan berfoto.


Selasa, 15 November 2016

PROPAGANDA KHILAFAH...

sumber Foto : facebook.com


TOP News - Ketika akhirnya adek Intan Olivia korban bom Samarinda wafat karena luka bakar yang serius, saya tertarik untuk melihat pandangan kaum sebelah..

Dan benar sesuai dugaan saya, jangankan bersedih atau mengutuk aksi itu, mereka sibuk berbicara bahwa bom Samarinda adalah pengalihan isu dari kasus Ahok...

"Kenapa begitu ? Apakah mereka sudah tidak punya hati ?" Kalau masalah hati, sudah tidak usah ditanyakan lagi. Jika punya, sejak lama mereka sudah waras dalam berkomentar..

Tapi selain masalah hati, hal yang perlu diwaspadai adalah propaganda mereka..

Perhatikan saja, mereka tidak menemukan celah bahwa yang melakukan pemboman ini adalah non muslim. Jika ada - entah itu dalam bentuk KTP atau identitas apapun - maka mereka menggonggong sahut menyahut bahwa "Ini perbuatan kafir, ini fitnah terhadap Islam..".

Tetapi ketika teridentifikasi bahwa memang teroris itu beragama Islam, maka teriakan mereka berbeda, "Itu pengalihan isu !".

Jadi, kalah menang, mereka tetap selalu pengen menang sendiri. Itu sifat yang dibangun dengan sistematis, kebanggaan diri akan golongannya..

Siapa yang mengabarkan bahwa bom Samarinda adalah "pengalihan isu pemerintah atas kasus Ahok" ?

Sesudah saya telusuri, yang pertama adalah Desmond J Mahesa, Wakil Ketua Komisi III dari Gerindra. Ooww..

Perhatikan perkataannya, "Di tengah kondisi hari ini yang suasana politik agak panas, akibat demo tanggal 4 dan sampai sekarang masih terasa, apakah ini bukan daripada mainan ?"

Luar biasa, sebuah apresiasi penuh cinta dari seorang wakil rakyat terhadap mereka yang "diwakilinya".

Kedua, yang sering dikutip adalah pernyataan pengamat terorisme yang juga Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya.

Eh, siapa Harits abu Ulya ?

Menurut penelusuran, dia adalah mantan (?) Ketua Lajnah Tsaqafiyyah HTI. Oow.. ada HTI-nyah ternyata..

Coba perhatikan perkataannya yang saya ambil dari hasil wawancaranya dengan media online tidak terkenal drise-online tentang  lembaganya.

"CIIA adalah komunitas yang di dalamnya berkumpul beberapa person generasi Muslim yang punya kesadaran ideologis untuk ikut mengawal pertarungan pemikiran, opini dan propaganda demi sang “fajar “ (Khilafah) kembali terbit.."

Aha, propaganda untuk mengawal khilafah.... Sudah mulai kelihatan bentuknya.

Dan ada juga Tengku Zulkarnain, dari MUI yang di ILC pernah bicara untuk memotong kaki dan tangan "penista agama". Bahasa mereka semua sama, bahwa ini pengalihan isu dan dikutip oleh banyak media online spt portalpiyungan, eramuslim dan sejenisnya.

Lalu di share secepat "Lucky Luke yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri" oleh kaum hore-hore yang hidup dengan mengandalkan otot daripada akal.

Konsep "pengalihan isu" ini adalah bagian dari propaganda untuk melemahkan kredibilitas pemerintah. Buat mereka, korban hanyalah "bagian dari permainan perang" saja.

Jadi jangan berharap mereka bersedih, mengutuk apalagi berdemo terhadap tragedi itu. Mereka malah memanfaatkannya sebagai senjata untuk menyerang aparat dan pemerintah.

Nah, kenali dulu pola permainan mereka supaya kita sadar bahwa mereka sebenarnya memainkan "agenda-agenda" dengan menunggangi agama melalui politik. Tak kenal maka tak sayang....

Masak mau selamanya menjadi "umat buih lautan" yang diombang-ambing tanpa sedikitpun pengetahuan ?

www.dennysiregar.com

Jumat, 04 November 2016

BREAKING NEWS " AHOK MUNDUR"


Jakarta(04/11/2016). Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok akhirnya mundur, beliau baru saja bertemu dengan para tokoh masyarakat di istana Negara malam ini bersama Presiden Jokowi. Setelah belakangan ini kondisi semakin memanas akibat diserang kanan kiri dengan berbagai demonstrasi dari kalangan, Ahok pada malam hari ini, akhirnya menyatakan mundur.

Keputusan itu diambil setelah Ahok mengikuti saran seseorang bawahannya. Keputusan itu dilakukan Ahok, Ketika Ahok setibanya di Istana Negara malam ini, setelah beliau pulang dari kampanye  di daerah Jakarta selatan.

Keputusan Ahok ini dianggap terlalu tergesa-gesa, dengan kenyataan bahwa waktu dan ruang masih tersedia cukup lebar untuk Calon Gubernur nomor urut 2 ini.
Lantas siapakah orang yang menyuruh ahok mundur? . . . . . . . . .

Ternyata orang tersebut adalah juru parkir Balai Kota. Ketika mobil Ahok mau parkir, juru parkir berkata, "Mundur.. Mundur.. Mundur terus pak..". Ahok pun mengalah dan akhirnya memundurkan mobilnya.

___________________________________________________________________

Please jangan tegang, santai ajah okeh ? kepala dingin bisa kan ?

Semua bentuk dari demokrasi pasti dapat diselesaikan dengan damai kok :) . Bahkan untuk orang-orang yang menyatakan tidak mengakui Demokrasi dan Pancasila-pun. Toh mereka akhirnya mengambil jalan yang demikian :) Junjung Demokrasimu dengan santun dan baik ! Keluarkan bebas suara dan pendapatmu! tapi ingat ?

NKRI Harga MATI!

Sabtu, 15 Oktober 2016

BREAKING NEWS : Akhirnya Ahok mundur



Jakarta(04/11/2016). Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok akhirnya mundur, beliau baru saja bertemu dengan  para tokoh masyarakat di istana Negara malam ini bersama Presiden Jokowi. Setelah belakangan ini kondisi semakin memanas akibat diserang kanan kiri dengan berbagai demonstrasi dari kalangan setempat. Ahok pada malamhari ini, akhirnya menyatakan mundur.

Keputusan itu diambil setelah Ahok mengikuti saran seseorang bawahannya. Keputusan itu dilakukan Ahok, Ketika Ahok setibanya di Istana Negara malam ini, setelah beliau pulang dari kampanye  di daerah Jakarta selatan.

Keputusan Ahok ini dianggap terlalu tergesa-gesa, dengan kenyataan bahwa waktu dan ruang masih tersedia cukup lebar untuk Calon Gubernur nomor urut 2 ini.
Lantas siapakah orang yang menyuruh ahok mundur? . . . . . . . . .

Ternyata orang tersebut adalah juru parkir Balai Kota. Ketika mobil Ahok mau parkir, juru parkir berkata, "Mundur.. Mundur.. Mundur terus pak..". Ahok pun mengalah dan akhirnya memundurkan mobilnya.

___________________________________________________________________

Please jangan tegang, santai ajah okeh ? kepala dingin bisa kan ?

Semua bentuk dari demokrasi pasti dapat diselesaikan dengan damai kok :) . Bahkan untuk orang-orang yang menyatakan tidak mengakui Demokrasi dan Pancasila-pun. Toh mereka akhirnya mengambil jalan yang demikian :) Junjung Demokrasimu dengan santun dan baik ! Keluarkan bebas suara dan pendapatmu! tapi ingat ?
PERHATIAN...!!! Kami mengajak partisipasi anda untuk tanda tangan petisi TANGKAP PROVOKATOR  semua kericuhan ini, akibat beliau mengedit dan menghilangkan 1 kata negara ini jadi ribut, MARI TANDA TANGAN PETISI DISINI(klik untuk masuk ke petisi)
67 ribu lebih sudah tanda tangani petisi ini.
NKRI Harga MATI!



SHARE UNTUK MEMBERIKAN RASA BAHAGIA SEMENTARA KEPADA MEREKA YANG INGIN AHOK MUNDUR.

Selasa, 11 Oktober 2016

Ahok Keluarkan Surat Penutupan Diskotek Mille's Hari Ini


Basuki T Purnama (Ahok) (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Diskotek Mille's di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, akan ditutup, menyusul ditangkapnya perwira polisi AKP Sunarto yang membawa sabu dan ekstasi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, penutupan tersebut sudah sesuai prosedur.

"Diskotek kan kita sudah buat peraturan, kalau kamu ketemu ada yang memakai, bukan jual ya. Pokoknya kalau di dalam diskotek ada yang pakai narkoba, ketemu dua kali, pasti kami tutup. Dan enggak boleh buka usaha yang sejenis lagi. Sama kasusnya seperti Stadium," ujar Ahok di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/10/2016).

Dikatakan Ahok, surat perintah penutupan diskotek itu akan dikeluarkan hari ini. "Sudah diperintahkan kemarin. Dari Jumat lalu, supaya hari ini dikeluarkan surat ditutup," katanya.

Lalu, selain Mille's, apa ada diskotek lain lagi yang akan ditutup?

"Saya belum dapat laporan. Pokoknya kita akan minta BNN Provinsi, siapapun ketemu ada narkoba, malahan sekarang kita lagi mau dorong PNS semua ditest rambut. Test urin katanya seminggu bisa lewat. Kalau rambut enggak bisa. Jadi kalau ketemu pun kita berhentikan," jelas Ahok.

(Ray Jordan - detikNews.com)

Senin, 10 Oktober 2016

PPP Kubu Djan Faridz Dukung Ahok-Djarot untuk Pilgub DKI Jakarta 2017

TOP News - Partai Persatuan Pembangunan kubu Djan Faridz men menyatakan dukunganya kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilgub DKI 2017 mendatang. 

Keputusan PPP kubu Djan Faridz ini disampaikan di Kantor DPP PPP di Jalan Diponegoro Jakarta pusat, jum'at (07/10/2016).

Keputusan PPP mendukung Ahok-Djarot diambil berdasarkan rapat pleno DPP PPP yang dilaksanakan pada 4 Oktober 2016 yang lalu. Djan mengatakan pertimbangan ini untuk dukung Ahok dan Djarot sesuai hasil silaturahmi nasional yang dihadiri seluruh pengurus wilayah PPP se-Indonesia termasuk Ketua DPW DKI Jakarta.

"Sikap DPW PPP untuk mempertimbangkan dan mendukung pasangan Ahok-Djarot dilandasi semata-mata untuk kemaslahatan umat dan toleransi umat beragama. PPP sebagai partai besar ingin menjadi jembatan antar umat, saya lihat pasangan Ahok-Djarot ketika mereka memimpin Jakarta kepentingan-kepentingan umat Islam terpenuhi," ujar Djan Faridz seperti dilansir detik.com.

Djan Faridz yang mengklaim PPP sebagai partai dakwah beralasan bahwa ketika memutuskan mendukung Pak Ahok apalagi Ahok didampingi seoarang muslim, didampingi oleh Haji Djarot Saiful Hidayat artinya Ahok ini akan didampingi seorang wakil yang mewakili masyarakat dan diawasi dituntun dan dijembatani PPP supaya beliau didukung masyarakat Islam yang ada di Jakarta.

Lebih lanjut Djan Faridz mengungkapkan bahwa DPP PPP melihat kerja nyata Ahok-Djarot selana memimpin Jakarta sedikit banyak sudah mengakomodasi perlindungan umat Islam.

Keputusan PPP kubu Djan Faridz ini berbeda dengan keputusan PPP kubu Romahurmuziy yang sudah disahkan oleh Kemenkum HAM mendukung pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni pada Pilgub DKI 2017 mendatang. [islamedia.id]

Usai Minta Maaf, Ahok Ajukan Pertanyaan Seperti Ini Kepada Mereka Yang Tersinggung



TOP News - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkannya melalui sambutan di Kepulauan Seribu dengan menyinggung Surat Al Maidah.

"Saya sampaikan kepada ‎semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam," ucapnya di Balai Kota Jakarta, Senin (10/10/16).

Adapun kata Ahok, pernyataan yang ia keluarkan sebelumnya bukan berarti dirinya anti Islam atau ingin memusuhi umat muslim.

Pasalnya dari semula, lanjut dia, banyak program Pemerintah Provinsi DKI yang pro umat. Misalnya membangun masjid, Kartu Jakarta Pintar untuk madrasah serta bantuan kepada sekolah Islam lainnya.

"Kamu lihat tindak-tanduk saya ada enggak ingin musuhin Islam? Ada enggak melecehkan Al-Quran?," tegasnya.

Karenanya ke depan, Eks Bupati Belitung Timur itu berharap agar permasalahan ini tidak dilanjutkan lagi. 

Sebab menurutnya, perkara ini dapat mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kendati sebelumnya Ahok berkeras bahwa ia tidak bermaksud menghina Alquran, namun ia sadar setiap orang memiliki tafsiran berbeda-beda.

Tak hanya itu, Mantan Anggota Komisi II DPR itu juga mengaku telah mendapat surat teguran dari MUI DKI Jakarta.

Sebab dikatakannya melalui teguran itu, sesama agama pun dapat menafsirkan kitab sucinya secara berbeda. Apalagi berbeda kepercayaan.

"Untuk itu saya mohon maaf," tandas dia.

Sebelumnya, dalam kunjungan Ahok ke Kepulauan Seribu, ia mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh dengan politisasi ayat suci Alquran dengan menggunakan Surat Al Maidah 51 yang mengharuskan umat Islam tidak memilih pemimpin non muslim

sumber: jawapos.com

Jumat, 07 Oktober 2016

Isu SARA tak pengaruh, Ahok-Djarot tetap dipilih 42,5% umat Muslim


AHOK-DJAROT

Reporter : Anisyah Al Faqir
TOP News - Lembaga survei Populi Center merilis arah suara pemilih Pilgub DKI 2017 mendatang. Survei ini dilakukan pada 25 September-1 Oktober 2016 dengan metode wawancara tatap muka. Sebanyak 600 responden dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) di seluruh wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Hasil survei menunjukkan ada 15,2 persen suara yang belum menentukan akan memilih 3 pasangan bakal calon cagub dan cawagub DKI Jakarta. Hal ini tentu saja menjadi peluang untuk meraup suara bagi para pasangan balon untuk mendongkrak elektabilitas.

"Masih bisa digunakan (pemilih yang belum memutuskan) untuk mendongkrak elektabilitas," kata peneliti Populi Center Nona Evita di Kantor Populi Center (6/10).

Hasil survei mengenai 3 karakter pemimpin Gubernur DKI Jakarta nanti, warga menginginkan pemimpin yang bersih dari korupsi. Pada kategori ini sebanyak 30,2 persen. Kriteria tegas sebanyak 30, persen dan merakyat sebanyak 21,8 persen.

Sementara itu, terkait isi SARA yang kian merebak pasca pendaftaran para bakal calon. Namun, nyatanya isu SARA tersebut tak banyak memengaruhi pilihan warga DKI. Hal ini ini terbukti dari data yang menunjukkan bahwa masyarakat penganut agama Islam paling banyak memilih pasangan Ahok-Djarot yakni 42,5 persen.

"Dari persentase pemilih muslim, sebanyak 42,5 persen memilih pasangan Ahok-Djarot, 23,5 persen memilih Anies-Sandi dan 16,8 persen memilih Agus-Sylvi," ujar Nona.(MERDEKA.COM)